Memanfaatkan Air Bekas Wudhu untuk Penyiraman Tanaman

Ide memanfaatkan air bekas wudhu muncul setelah kepindahan di rumah yang baru. Jika di rumah sebelumnya penggunaan air tidak menjadi masalah karena melimpah dan gratis. Di tempat yang baru ada pembayaran tiap kubik yang digunakan.

Berawal dari itu muncul ide-ide untuk melakukan penghematan penggunaan air. Termasuk ide pemanfaatan kembali air bekas wudhu untuk penyiraman tanaman.

Pada hari-hari awal penerapan ide ini terasa menjadi beban karena harus menyiapkan ember dibawah pancuran air wudhu. Namun setelah menjadi terbiasa menjadi sesuatu yang membahagiakan, ya hal yang membahagiakan. Bahagianya karena mampu melakukan hal kecil yang bermanfaat bagi lingkungan. Bermanfaat bagi lingkungan, karena air yang digunakan dialirkan dari sumur bor tetangga.Bisa juga menghemat “anggaran belanja” dan mengurangi jumlah air yang dipompa ke permukaan serta menghemat listrik yang digunakan saat memompa air ini.
Disini bahagianya, bisa kontribusi walau super kecil bagi lingkungan dan alam.

Air bekas wudhu yang diperoleh dalam sehari berkisar 20-25 literan sehari. Artinya dalam sebulan bisa menghemat 600 – 750 liter air. Air yang diperoleh ini dimanfaatkan untuk menyiram seluruh tanaman pot yang ada di rumah.

Cukup dengan menyimpan ember ukuran sedang dibawah keran wudhu lalu tampung air wudhu hingga penuh. Jika sudah penuh bisa langsung disiramkan ke tanaman menggunakan gayung kecil. Pengalaman pribadi, air yang sudah ditampung disiramkan saat pagi dan sore hari, karena dalam sehari menghasilkan dua ember.

Tantangan Menulis Blog 40 Tulisan dalam 40 Hari

Setelah beberapa hari domain website eblog ini diaktifkan kembali, kini hal yang tidak ringanya adalah mengisi Eblog ini dengan tulisan-tulisan yang bermanfaat.

Jika beberapa tahun yang lalu satu hari bisa menghasilkan tulisan dua sampai tiga tulisan blog, kini untuk menelurkan satu tulisan harus berfikir beberapa hari bahkan berminggu. Seperti halnya seorang atlet yang sudah dalam tidak berlatih, penulis blog juga seperti itu, “otot-otot” menulis seperti kaki tidak luwes lagi.

“Otot-otot” menulis yang kaku seperti sangat sulit digerakan lagi untuk menelurkan ide-ide tulisan. Mungkin hal pertama yang harus dilakukan adalah menggerakan-gerakan jari jemari diatas keyboard dan menulis tanpa terpaku dengan “ide-ide” ideal yang kaku. Alias pokoknya gerak walau pelan. Menulis dulu walau tulisanya jauh dari kalimat-kalimat yang baku sesuai EYD.

Untuk memulai langkah menuju kearah yang lebih baik, maka hal yang saya tanamkan adalah niat dan membuat program “40P 40H”. Maksudnya menulis 40 postingan dalam 40 hari.

Dimulai dari menggerakan jari-jemari dulu, nyari ide kemudian…selanjutnya berlatih menyempurnakan tulisan.

Semangat …

Dapur Bertungku, Jamuan Tamu Warga Pegunungan Dieng

Dataran tinggi Dieng yang terkenal dengan kentang, wortel dan sayuran lainya juga memiliki kearifan lokal yang khas. Salah satunya adalah tempat jamuan bagi tamu, walaupun ruang utama atau ruang tamu tersedia, tapi banyak warga lokal dieng mempersilahkan para tamu untuk masuk ke dapur bertungku.

Kekhasan ini menurut penuturan warga lokal sekitar Dieng dikarenakan suhu udara di dataran tinggi dieng sangat dingin, jadi secara turun temurun warga sekitar Dieng lebih nyaman berkumpul atau menerima tamu yang berkunjung di dapur yang dekat dengan tungku perapian.

Meja yang digunakan juga seperti menyesuaikan dengan kondisi tersebut, meja dibuat sekitar selutut orang dewasa, jadi tidak seperti meja-meja yang umum ditemui, disana tinggi meja sekitaran selutut. Hangat perapian dari tungku akan lebih terasa sampai ke badan dengan tinggi meja yang tidak terlalu tinggi, kemungkinan saya menerka alasanya mengapa meja makan atau meja tamu di dapur tidak terlalu tinggi. Ini hanya terkaan saya karena belum pernah bertanya mengapa meja dapur dibuat tidak tinggi.

Banyak hal unik lainya yang saya temukan di pegunungan Dieng Banjarnegara. Pada lain tulisan akan saya tulis.

Semangat Memulai Kembali Menulis Blog

Dengan ucapan بسم الله الرحمن الرحيم saya mulai kembali menulis melalui media blog ini dengan nama domain yang baru.

Semoga dengan adanya nama domain website yang baru bisa semangat untuk menulis dan berbagi tulisan yang bermanfaat bagi pembaca blog ini.

Saya menggunakan nama domain eblog.id supaya mudah untuk dieja dan untuk lebih mempopulerkan nama domain Indonesia yaitu dot ID.

Harapan semoga dengan menggunakan nama domain yang baru bisa meningkatan semangat untuk kembali ngeblog yang sudah meredup sejak era sosial media mewabah.