lingkungan hidup

Kotak Sampah Organik dan Pengelolaan Sampah Rumah Tangga

Pengelolaan sampah organik terinspirasi walikota Bandung yang saat itu menggalakan pengelolaan sampah mandiri. Saat itu masih kuliah, menyengaja beli dua tong sampah bekas cat 25 kg. Saat di komplek kosan tidak semua penghuni kosan peduli dengan ide pemisahan sampah organik dan sampah anorganik. Saya beli dua ember sampah, tapi tetap saja banyak yang mencampurkan dua jenis sampah berbeda. Walaupun begitu saya usahakan pisahkan keduanya,  untuk sampah organik terkumpul saya kubur di tanah kosong depan kosan.

Apakah “program mulia” tersebut berhasil ? Tak semulus dan semudah yang saya kira, ada beberapa kendala. Beberapa kendala yang saya hadapi :

1. Kesadaran para penghuni kosan terhadap pengelolaan sampah rendah bahkan ada yang tidak peduli sama sekali. Mereka yang tidak peduli berfikir karena sudah ada tukang sampah yang memungut seminggu sekali. Menghadapi hal ini kita harus berinisiatif untuk mensosialisasikan program dan pentingnya pengelolaan sampah.

2. mengelola sampah organik dengan cara memendam sampah organik di depan tanah kosong di perumahan padat tak semudah yang dikira. Saat saya pendam dengan tanah, malah diorak arik tikus dan bahkan kucing rumahan. Hal ini terjadi karena kedalaman pendaman sampah organik terlalu dangkal bahkan dipermukaan cuma ditutup tidak membuat galian. Waktu itu berhubung dikosan tidak ada cangkul jadi seadanya dipendam. Hal ini jadi pengalaman bagi saya dalam pengelolaan sampah organik lebih lanjut, yaitu perlu diperhatikan tempat pengolahan akhir supaya aman dari binatang dan”pengorak-arik” sampah organik lainya. Saat ini di lahan sendiri jadi lebih terstruktur dalam pengolahan sampah organik, kini di lahan rumah sendiri galian untuk pemendaman sampah organik lebih dalam digali dengan cangkul, lalu dipendam dengan tanah, dan bagian atasnya ditutupi material lain seperti batu bata yang tidak digunakan. Di lahan rumah sendiri selain tikus, kucing dan ayam peliharaan tetangga jadi walau galian dalam tapi seringkali dicakar-cakar ayam. Jadi diperlukan material penutup yaitu batu bata atau genteng atau material lain di belakang rumah.

3. Kotak sampah organik. Seperti sepele namun kotak sampah organik hal penting yang harus diperhatikan. Terkadang jika tidak kita perhatikan, kotak sampah organik jadi cepat kotor dan bau. Saat ngekos atau era kuliah, ember sampah besar, tidak pakai alas plastik dan tidak pernah di cuci hehehe. Hal ini menyebabkan lama kelamaan kotor dan bau tentu saja. Belajar dari pengalaman dan mencari inspirasi dari Youtube tentang pengelaan sampah organik, kini kotak sampah menjadi lebih  baik.

Itulah sekilas pengalaman saya dalam pengelolaan sampah organik saat masih kuliah, menjadi permulaan yang kini kebiasaan baik tersebut saya lanjutkan dengan perbaikan. Di poin ketiga dari kendala-kendala pengelolaan sampah organik ini yaitu kotak sampah. Kini Kotak sampah yang digunakan lebih baik, lebih bersih, dan tidak menimbulkan bau sampah tercium. Kotak sampah organik yang sekarang digunakan bukan barang mahal apalagi otomatis bermesin. Berikut penampakkan kotak sampahnya :

Kotak Sampah Organik
Kotak Sampah Organik dari Kotak Bekas Eskrim

Hanya dari Kotak Eskrim Bekas namun sangat membantu dan sudah saya gunakan sudah lebih dari tiga tahun namun terlihat putih bersih dan awet. Kotak Eskrim yang digunakan tersebut saya beli di BukaLapak. Waktu itu beli beberapa kotak dan tujuan awalnya hanya untuk pot tanaman, namun setelah saya perhatikan cocok buat sampah organik.

Kotak sampah dari Eskrim Bekas ini punya kelebihan, berikut beberapa kelebihanya :
1. Murah harganya dan mudah dijumpai. Harganya kisaran 15 sampai 20 ribuan. Bisa dijumpai mulai dari di tempat barang bekas sampai marketplace seperti Bukalapak.
2. Ukuran nya cocok untuk ukuran rumah tangga, bisa menampung sekitar 2-5 harian (bergantung jumlah sampah organik yang dihasilkan. Untuk keluarga kecil saya bisa buat menampung sekitar 4-5 harian. Jadi 5 hari sekali diganti dengan cadanganya. Jika terlalu besar, lebih repot dalam penyimpanan dan saat dibawa. Selain itu jika terlalu lama bahan organik disimpan di wadah bisa menimbulkan bau tidak sedap.
3. Putih Bersih dan Tidak Memakan ruang besar. Warna nya yang putih kesanya lebih bersih. Saat kotor mudah di bersihkan, dicuci atau dilap.
4. Kuat sehingga bisa digunakan untuk jangka waktu lama.
5. penutupnya mampu menutup rapat sehingga bau tidak sedap tidak mengganggu dan tidak menggundang serangga dan binatang lainya datang.
6. Mudah pakai alas keresek bekas, jadi tidak memerlukan kantong keresek sampah khusus. Cukup gunakan keresek bekas ukuran lebar 25-40 cm.

Kotak Sampah organi
Satu Kotak Sampah Terisi, Satu Kotak Sampah Kosong Kering

Di rumah tangga saya, 2 kotak sampah yang dimanfaatkan, jadi saat kotak yang satu dicuci-keringkan, kotak yang lainya digunakan, begitu sebaliknya. Semoga tulisan saya bisa menginspirasi teman-teman untuk mengelola sampah organik mandiri di rumahnya sehingga tidak membuat TPS TPS kota penuh dan menimbulkan bau serta polusi udara.